Sabtu, 16 November 2013

Cara menghitung berat badan ideal

Bagaimana cara menghitung berat badan ideal? Saya wanita dengan tinggi 167cm.

Q: Dear Dokter, Saya perempuan dengan tinggi badan 167cm, saya ingin mengetahui berapakah berat badan yang ideal untuk saya, bagaimanakah cara menghitungnya?
A: Rumus berat badan ideal adalah: Tinggi Badan (cm) – 100, untuk pria >160cm dan wanita >150cm harus dikurang lagi dengan 10%. Cara lain adalah dengan mengukur Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT = Berat Badan (kg) dibagi dengan kuadrat Tinggi Badan (m). IMT yang normal adalah antara 18.5 – 23, Obese jika IMT >25kg/m2.

Sumber : https://www.google.co.id/search?noj=1&biw=1024&bih=638&q=tubuh+ideal+wanita&oq=Tubuh+ideal&gs_l=serp.1.0.0l10.

Jangan Ulang Hari Itu


Jangan Ulang Hari Itu
Karya Aiegustin Diansari Pranoto - “Saatnya untuk bangun, sekarang jam 05.00 tepat, waktunya untuk bangun !” Suara yang begitu nyaring terdengar dari jam weker yang terletak disebelah telingaku. Terbangun aku dari tidur yang nyenyak, hujan yang turun semalam masih meninggalkan hawa dingin yang membuatku enggan untuk melepas selimut. Satu hal yang menguatkanku untuk bangun hari ini. “Dia” yaah, cowok berpostur tinggi, hidung mancung, alis tebal, dengan setelan jaket biru yang biasa ia kenakan, yang selalu menjeputku di depan gang setiap pagi. Siapa lagi kalau bukan Kian Al-Farabi, pangeran tampan setampan romeo dan aku julietnya. Hahaha jelas saja aku berkata seperti itu, sebab cowo cuek yang gak romantic itu adalah pacarku. Tak ada satupun yang boleh mengejek pacar Iris Tantia, karena bagaimanapun aku sayang padanya.


Setelah semuanya siap, seperti biasanya pukul 06.30 pagi. Aku sudah harus stand by di depan gang. Karena dia gak suka yang namanya nunggu, jadi aku harus buru-buru tiap paginya. Setelah 10 menit menunggu.

“Eh ayok !!!” ujar Kian menghampiriku.

“Aaah…iya sabar.” Jawabku sambil tersenyum lebar.

Seperti biasanya aku langsung naik dan memegang erat jaket birunya itu. Aku dan dia selalu saja ngobrol disepanjang jalan, ntah apa-apa saja yang kami obrolkan akupun tidak tau, yang pasti bahan pembicaraan kami tidak ada habis-habisnya. Tapi hari ini aku heran, dia hanya diam saja dan berbicara seperlunya.

“Kamu kenapa sih?” tanyaku penasaran.

“Aku, gak kenapa-kenapa kok.” Jawabnya singkat.

“Ih, kamu kok diem aja daritadi?” ujarku

“Ya engga, aku cuman capek aja,” dijawabnya lagi dengan ekspresi datar.

Seperti biasa dia memarkirkan motornya paling depan. Setelah itu, kami jalan berdua menuju kelas masing-masing. Yaaah, aku dan dia beda kelas. Dia kelas XG sedangkan aku XE. Setelah 8 jam berada di sekolah, bell pun berdering kencang “kriiing..kriiing..kriing..” semua anak berhamburan keluar. Kurasakan hp di saku rokku bergetar, sudah kutebak pasti itu Kian. Sebuah pesan ingkat yang sudah tidak asing lagi ku terima.

“Kamu dimana? Ayok cepetan. Aku udah di parkiran.”

Dengan segera aku berlari dan meninggalkan teman-temanku. Sesampainya di parkiran aku langsung menuju kearahnya dan mengantarku pulang kerumah. Disepanjang jalan satu katapun tidak keluar baik dari mulutnya maupun dari mulutku. Aku bingung ada apa dengan dia.

Setiap magrib tidak lupa aku mengingatkannya untuk solat. Tapi aku heran, kenapa dia tidak membalasnya. Ketika aku sedang asik mendengar musik, tiba-tiba saja hpku bergetar. “Dreet..Dreet..” dengan segera aku mengambil hpku, karena ku tau itu pasti dia.

“Ris, ada kabar gak enak, kamu gak boleh sedih cukup aku yang sedih,” isi pesan singkatnya.

“Kamu kenapa? Ada apasih?” tanyaku penasaran.

“Aku mau pindah jauh ke Kalimantan.” Ujar Kian.

“Kamu bohong ya? Ah kamu becandanya basi.” Dengan segera aku membalasnya.

“Aku gak bohong Ris, ayah aku kemaren bilang. Kenaikan kelas. Satu bulan lagi aku pindah. Aku gak tega bilang ini ke kamu. Tapi mau gimana lagi, aku juga gak pengen gini.” Balasnya.

Tidak terasa air mataku jatuh begitu saja, bersamaan dengan lepasnya handphone dari genggamanku. “ Ini mimpi apa kenyataan sih? Ih gilak semuanya gilak !!!” air mataku terus berjatuhan tanpa diperintah. Langsung ku ambil handphoneku di lantai, tanpa berfikir panjang aku langsung menelphonnya.

“Kamu bohongan gak sih? Jawab serius!” kata-kata yang keluar pertama kali dari mulutku.

“Iris, aku minta maap sama kamu, aku gak maksut buat kamu sedih.” Ujar Kian.

Bibirku tak sanggup lagi untuk berbicara sepatah katapun. Langsung ku non aktifkan hpku dan melemparnya jauh dariku. Aku benar-benar tidak pernah menduga bahwa dia akan pindah. Kabar ini sungguh membuatku seperti kehilangan tulang-tulang rangka yang menopang tubuhku. Badan ku terasa sangat lemah, dan aku hanya bisa terduduk lemas sambil menggigit guling yang ada di genggamanku.

Pagi ini suara alarm kembali membangunkanku. Mataku terasa berat untuk dibuka, mungkin karena menangis semalam, sampai ku merasa kelopak mataku berat sekali seperti ditimpah batu gilingan cabe seberat 1 kg. ketika ku berkaca di cermin, langsung ku berlari ke kamar mandi dan mencuci mataku. Aku tak ingin dia tau kalau semalaman aku menangis.

Seperti biasanya kami berangkat bersama, tak ada satu katapun yang keluar saat itu. Karena aku berusaha menahan air mata yang selalu meronta ingin keluar. Aku pun selalu menundukkan kepalaku. Aku tak ingin dia melihat mataku yang bengkak ini. Ketika hampir sampai kelas aku mengajaknya berbicara.

“Kok pindah?” ujarku.

“Ayah pindah tugas.” Jawabnya singkat.

“Trus rumah kamu gimana?” ujarku penasaran.

“Di jual kata ayah,” jawabnya ringan.

Aku menggerutu dalam hatiku “ih,cowok ini enteng banget sih jawabnya, gak tau apa semaleman gua nyaris mati tenggelem di air mata!” Ketika sampai depan kelasnya, aku langsung lari dan menuju kelasku. Semua air mata jatuh tak tertahan lagi. Teman-temanku langsung menghampiriku, semua bertanya ada apa denganku.

Berat, Cuma itu yang sekarang ada di otakku. Dalam benakku, aku kesal sekali padanya. Hari demi hari berjalan tanpa terasa. Aku tak bisa bersikap seperti biasanya. Mata merah dan muka lusuh yang selalu terpasang di wajahku setiap harinya. Setiap malam, kebiasaan setiap harinya, selalu smsan dengan dia. Tidak lain sekarang yang dibahas yaaa tentang dia, kepindahannya, dan nasibku setelah itu. Satu hal yang menguatkanku ketika dia mengirimkan pesan singkat.

“Kamu tenang aja, dua taun lagi aku tunggu kamu di Jogja ya ris, kita kuliah disana. Kamu mau kan?”
Aku hanya bisa mengiyakan dan berharap dua tahun lagi itu jadi kenyataan. Tapi dua taun itu gak sebentar. Air mataku kembali menetes hingga ku terlelap dalam tidur dengan diiringi lagu Secondhand Serenade yang sama sekali tak kusukai awalnya. Tapi mungkin Stay Close Don’t Go lagu itu cocok dengan nasibku sekarang ini.

Aku membulatkan tanggalan di kalender untuk satu harinya. “Sebentar lagi” desahku sambil menghela nafas. Tentunya sisa waktu ini akan ku manfaatkan baik-baik. Aku dan Kian selalu kemana-mana berdua. Rasanya tak ingin bergeser satu detikpun dari sampingnya bila mengingat nanti mungkin tak seindah hari ini.

Di hamparan rerumputan dekat rumahku. Tempat biasa kami bersama. Ku rasakan kesejukan angin yang berhembus.

“Kalo kamu pindah nanti, kalo punya cewek baru jangan lupa sama aku ya Ki,” ujarku sambil memegang erat tangannya dan merebahkan kepalaku di pundaknya.

“Kalo aku pindah nanti, kamu gak boleh sama cowok laen ya, aku sayang kamu Ris. Janji ya !” jawabnya sambil menatap wajahku.

Percaya gak percaya mungkin dia masi bisa bilang sayang sekarang, tapi ntah untuk nanti. Buat LDR (Long Distance Relationship) sudah pasti dan kudu wajib ada yang bakal ngerasain sakit hati.
Hari ini, 16 Juni 2011, baju abu-abu yang melekat ditubuhku. Melengkapi kepucatan wajah dan beratnya mata yang menahan beban air ini. Aku berdiri di tengah keramaian. Yaaah.. hari ini aku berada di Bandara Radin Intan, sungguh akan menjadi tempat yang paling ku benci.

“Iris….,” ujar Kian.

Aku hanya menoleh dan tetesan air matapun tak bisa kutahan. Kudekap erat Kian dan aku sama sekali tidak ingin melepasnya.

“Aku sayang sama kamu. Kamu gak boleh pergi ! Bodok amat !” tak tahan lagi aku menahannya.

“Happy Anniversary 4 mounth sayang” ujarnya.

Aku baru sadar ternyata sudah 4 bulan kami bersama.

“Aku tunggu kamu di Jogja ya,” ujarnya kembali sambil perlahan melepaskan dekapanku.

“Aku mau kasih kamu ini, di pake ya Kian.”

Bungkusan kado berwarna merah berisi sweeter merah yang sudah lama kubelikan. Awalnya aku berniat akan memberikannya saat dia ulang tahun nanti. Langkah- langkah kecil itu membawanya pergi dan hilang dari penglihatanku. Sejenak kupejamkan mata dan suara pesawat itu membawanya pergi jauh dariku. Kisahku seperti sinetron yang tak pernah kuduga awalanya, entah apa yang harus kulakukan sekarang. Mungkin menepati janji-janji itu sampai mengunggu dua tahun lagi kalaupun tuhan mempertemukan kami. Selamat datang kesendirian. Selamat datang kesedihan.

“ I can see you if you are not with me I can say to my self if you are oke”
Sumber : http://cerpen.gen22.net/2011/12/jangan-ulang-hari-itu.html

Contoh Cerpen Singkat Lengkap

 Contoh Cerpen Singkat Lengkap
 
Contoh Cerpen Singkat - Cerpen / cerita pendek (short story) adalah jenis karya sastra yang memaparkan kisah atau cerita tentang manusia dan seluk beluknya lewat tulisan pendek. Cerpen pertama kali dikenalkan oleh pengarang-pengarang Amerika. Cerita pendek bermula pada tradisi penceritaan lisan yang menghasilkan kisah-kisah terkenal seperti Iliad dan Odyssey karya Homer. Cerpen singkat Kisah-kisah tersebut disampaikan dalam bentuk puisi yang berirama, dengan irama yang berfungsi sebagai alat untuk menolong orang untuk mengingat ceritanya. Bagian-bagian singkat dari kisah-kisah ini dipusatkan pada naratif-naratif individu yang dapat disampaikan pada satu kesempatan pendek. Keseluruhan kisahnya baru terlihat apabila keseluruhan bagian cerita tersebut telah disampaikan. Arti Sebuah Waktu Alkisah ada seorang wanita yang hidup di sebuah desa terpencil, dia ingin pergi kerja ke kota agar dia bisa mengoprasi wajahnya. Kemudian dia mengutarakan keinginannya untuk kerja di kota kepada kedua orang tuanya, tapi keinginannya tersebut di tolak oleh kedua orang tuanya. Mendengar kata kedua orang tuanya yang menolak keinginannya dia pun menangis, tapi tak berapa lama kemudian ibunya datang menghampiri dia. Dan tiba-tiba ibunya bilang “Kamu boleh pergi ke kota nak”. Mendengar perkataan ibunya dia pun tersenyum. Dan pagi harinya dia bersiap-siap untuk pergi ke kota. Di tengah perjalanan yang lama dan melelahkan dia istirahat di sebuah rumah, dan dia pun membayangkan, ” andai ku bisa membangun rumah mewah dan dapat mengoprasi wajah ku yang biasa menjadi luar biasa ini.” Tiba-tiba di tengah-tengah hayalannya datang seorang nenek tua menghampirinya, dan bertanya “kenapa nak kamu tersenyum sendiri?” “Saya sedang membayangkan andaikan saja ku bisa sukses di kota dan dapat mengoprasi wajahku ini”, kata dia. Dan nenek itu mengeluarkan jam kecil dari kantongnya, kemudian nenek itu berkata “Kamu tinggal putar jam itu sesuai dengan putaran jarum jam, bila kamu ingin segera meraih cita-citamu”. “Baik nek”, kata wanita tadi. Kemudian tak berapa lama dia memutar jam tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan nenek tadi. Dan tiba-tiba dia bisa bekerja di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Tapi dia tak puas dengan lamanya waktu yang di perlukan agar bisa mengoprasi wajahnya. Kemudian dia kembali memutar jam tersebut, dan wajahnya pun menjadi cantik. Lagi-lagi dia kurang puas dengan wajahnya, dan kembali dia memutar jam kecil pemberian nenek-nenek yang pernah dia temui sekali lagi. Tapi setelah memutar jamnya dia mendapati wajahnya yang semula cantik jelita menjadi tua dan keriput. Dan dia menyesal dengan keadaan dia sekarang. Kemudian dia kembali menemui nenek-nenek yang memberi dia jam di tempat di mana dia bertemu. Tapi dia tak melihat nenek tersebut karena nenek itu telah lama meninggal. Dia pun hanya bisa menyesal dan menangisi nasibnya. Dua Wajah Ibu Deru burung besi itu kian nyaring begitu melewati tempatnya berjongkok. Ia menghentikan gerakan tangannya. Menggiring burung itu lenyap dari mata lamurnya. Lalu, tangannya kembali menggumuli cucian pakaian yang tak kunjung habis itu. Beberapa detik sekali, tangan keriputnya berhenti, lalu ia menampari pipi dan kaki. Nyamuk di belantara beton ternyata lebih ganas ketimbang nyamuk-nyamuk rimba yang saban pagi menyetubuhi kulitnya saat menyadap karet nun jauh di pedalaman Sumatera-Selatan sana: Tanah Abang. Ia menarik napas, melegakan dada ringkihnya yang terasa kian menyempit. Kicauan televisi tetangga menenggelamkan helaan napasnya. Suara musik, iklan, dan segala hal. Perempuan itu kembali menghela napas. Lalu, bangkit dari jongkoknya, menekan tuas sumur pompa. Irama air mengalir dalam ritme yang kacau. Kadang besar, kadang kecil, seiring tenaganya yang timbul-tenggelam. Air keruh memenuhi bak plastik, menindih-nindih pakaian yang bergelut busa deterjen. Bau karet tercium menyengat begitu air itu jatuh seperti terjun. Ia adalah Mak Inang. Belum genap satu purnama perempuan tua itu terdampar di rimba Jakarta, di antara semak-belukar rumah kontrakan yang berdesak-desakan macam jamur kuping yang mengembang bila musim hujan di kebun karetnya. Hidungnya pun belum akrab dengan bau bacin selokan berair hitam kental yang mengalir di belakang kontrakan berdinding triplek anak lanangnya. Bahkan, Mak Inang masih sering terkaget-kaget bila tikus-tikus got Jakarta yang bertubuh hitam-besar lagi gemuk melebihi kucing betinanya di kampung, tiba-tiba berlarian di depan matanya. Sesungguhnya, ia pun masih tak percaya bila terjaga dari lelapnya yang tak pernah pulas, kalau akhirnya ia menjejakkan kaki di ibu kota Jakarta yang kerap diceritakan orang-orang di kampungnya. Suatu tempat yang sangat asing, aneh, dan begitu menakjubkan dalam cerita Mak Rifah, Mak Sangkut, dan beberapa perempuan kampung karibnya, lepas perempuan-perempuan itu mengunjungi anak bujang atau pun gadis mereka. Sesuatu yang terdengar seperti surganya dunia. Serba mewah, serba manis, serba tak bisa ia bayangkan. ”Kesinilah, Mak. Tengoklah anak lanangku, cucu bujang Emak. Parasnya rupawan mirip almarhum Ebak,” itulah suara Jamal kepadanya beberapa pekan silam. Suara anak lanangnya yang kemerosok seperti radio tua, ia pun melipat kening saat mengetahui suara itu berasal dari benda aneh di genggamannya. ”Dengan siapa Mak ke situ?” lontarnya. Ada keinginan yang menyeruak seketika di dada Mak Inang. Keinginan yang sejatinya sudah lama terpendam. Telah lama ia ingin melihat Jakarta. Ibu kota yang telah dikunjungi karib-karibnya. Tapi, ia selalu tak punya alasan ke sana, walau anak lanangnya, yang cuma satu-satunya ia miliki selain dua gadisnya yang telah diboyong suami mereka di kampung sebelah, merantau ke kota itu. Belum pernah Jamal menawarinya ke sana. Tak heran, ketika petang itu Jamal memintanya datang, ia lekas-lekas menanggapinya. ”Tanyai Kurti, Mak. Kapan ia balik? Masalah ongkos, Mak pakai duit Emak dululah. Nanti, bila aku sudah gajian, Emak kuongkosi pulang dan kukembalikan ongkos Emak ke sini,” itulah janji anak lanangnya sebelum mengakhiri pembicaraan. Suara kemerosok seperti radio tua itu terputus. Mak Inang kembali menghela napas saat ingat percakapan lewat hape dengan anak lanangnya itu. Beberapa pekan sebelum ia merasa telah tersesat di rimba Jakarta, di semak-belukar kontrakan yang bergot bau menyengat. Ia melepas tuas pompa, air berhenti mengalir. Tangannya menjangkau cucian, membilasnya. *** Kota yang panas. Itulah kesan pertama Mak Inang saat mata lamurnya menggerayangi terminal bus Kampung Rambutan. Sedetik kemudian, ia menambahkan kesan pertamanya itu: Kota bacin dan berbau pesing. Hidung tuanya demikian menderita ketika membaui bau tak sedap itu. Hatinya bertanya-tanya heran melihat Kurti demikian menikmati bau itu. Hidung pesek gadis berkulit sawo matang itu tetap saja mengembang-embang, seolah-olah bau yang membuat perut Mak Inang mual itu tercium melati. Belum jua hilang rasa penat dan pusing di kepala Mak Inang, apalagi rasa pedas di bokongnya, karena duduk sehari-semalam di bus reot yang berjalan macam keong, beberapa orang telah berebut mengerubungi dirinya dan Kurti, macam lalat, berdengung-dengung. Mak Inang memijit keningnya. Cupingnya pun ikut pening dengan orang-orang yang berbicara tak jelas pada Kurti, gadis itu diam tak menggubris, hanya menyeret Mak Inang pergi. Mak Inang kembali memeras beberapa popok yang ia cuci, sekaligus. Telapak kaki kanannya yang kapalan cepat-cepat menampari betis kirinya begitu beberapa nyamuk membabi-buta di kulit keringnya. Ia menghempaskan popok yang sudah diperasnya itu ke dalam ember plastik. Jemari tangannya menggaruk-garuk betis kirinya. Bentol-bentol sebesar biji petai berderet-deret di kulit keringnya. Ia menggeram. Hatinya menyumpah-serapah kepada binatang laknat tak tahu diri itu. Dua-tiga hari pertama, Mak Inang cukup senang berada di rumah berdinding batu setengah triplek Jamal. Rasa senangnya itu bersumber dari cucu bujangnya yang masih merah itu. Walau, sesungguhnya Mak Inang terkaget-kaget saat Kurti mengantarnya ke rumah Jamal. Semua di luar otak tuanya. Dalam benaknya yang mulai ringkih, Jamal berada di rumah-rumah beton yang diceritakan Mak Sangkut, bukan di rumah kecil sepengap ini. Keterkejutannya kian bertambah saat perutnya melilit di subuh buta. Hanya ada satu kakus untuk berderet-deret kontrakan itu. Itu pun baunya sangat memualkan. Hampir saja Mak Inang tak mampu menahannya. ”Mak hendak pulang, Mal. Sudah seminggu, nanti pisang Emak ditebang orang, karet pun sayang tak disadap,” lontar Mak Inang di pagi yang tak bisa ia tahan lagi. Ia benar-benar tak ingin berlama-lama di ibu kota yang sungguh aneh baginya. Sesungguhnya, Mak Inang pun aneh dengan orang-orang yang saban hari, saban minggu, saban bulan, dan saban tahun datang mengadu nasib ke kota ini. Apa yang mereka cari di rimba bernyamuk ganas, berbau bacin, bertikus besar melebihi kucing ini? Mak Inang tak bisa menghabiskan pikiran itu pada sebuah jawaban. ”Akhir bulanlah, Mak. Aku gajian saban akhir bulan, sekarang tengah bulan. Tak bisa. Pabrik juga tengah banyak order, belum bisa aku kawani Mak jalan-jalan mutar Jakarta,” ujar Jamal sembari menyeruput kopi hitam dan mengunyah rebusan singkong. Singkong yang Mak Inang bawa seminggu silam. Mak Inang tak bersuara. Hatinya terasa terperas dengan rasa yang kian membuatnya tak nyaman. ”Kurti libur hari ini, Mak. Katanya tengah tak ada lembur di pabriknya. Nanti kuminta ia mengawani Mak jalan-jalan. Ke mal, ke rumah anak Wak Sangkut dan Wak Rifah,” terdengar suara Mai, menantunya, dari arah dapur yang pengap. Mak Inang mengukir senyum semringah mendengar itu. Rasa tak nyaman yang menggiring keinginannya untuk pulang mendadak menguap. Kembali cerita Mak Rifah dan Mak Sangkut tentang Jakarta mengelindap. Gegas sekali perempuan tua itu menyalin baju dan menggedor-gedor pintu kontrakan Kurti. Gadis itu membuka pintu dengan mata merah-sembab, muka awut-awutan dengan rambut yang kusut-masai. Mak Inang tak peduli mata mengantuk Kurti, ia menggiring gadis itu untuk lekas mandi dan menemaninya keliling Jakarta, melihat rupa wajah ibu kota yang selama ini hanya ada dalam cerita karib sebaya dan pikirannya saja. Serupa kali pertama Kurti mengantarnya ke muka kontrakan anak lanangnya, seperti itulah keterkejutan Mak Inang saat menjejakkan kaki di kontrakan anak Mak Sangkut dan Mak Rifah. Tak jauh berupa, tak ada berbeda. Kontrakan anak karib-karibnya itu pun sama-sama pengap dan panas. Hal yang membuat Mak Inang meremangkan kuduknya, gundukan sampah berlalat hijau dengan dengungan keras, bau menyengat, tertumpuk hanya beberapa puluh meter saja. Kepala Mak Inang berdenyut-denyut melihat itu. Lebih-lebih saat menghempaskan pantatnya di lantai semen anaknya Mak Sangkut. Allahurobbi, alangkah banyak cucu Mak Sangkut, menyempal macam rayap. Berteriak, menangis, merengek minta jajan, dan tingkah pola yang membuat Mak Inang hendak mati rasa. Hanya setengah jam Mak Inang dan Kurti di rumah itu, berselang-seling cucunya Mak Sangkut itu menangis. Kebingungan Mak Inang pada orang-orang yang saban waktu datang ke Jakarta untuk mengadu nasib kian besar saja. Apa hal yang membuat mereka tergoda ke kota bacin lagi pesing ini? Segala apa yang ia lihat satu-dua pekan ini, tak ada yang membuat hatinya mengembang penuh bunga. Lebih elok tinggal di kampung, menggarap huma, membajak sawah, mengalirkan getah-getah karet dari pokoknya, batin Mak Inang. *** Tangan Mak Inang kembali menekan-nekan tuas pompa, air keruh dengan bau karet yang menyengat kembali berjatuhan ke dalam bak plastik. Kadang besar, kadang kecil, seiring dengan tenaganya yang timbul tenggelam. Lagi, Mak Inang membilas cucian pakaian cucu, menantu, anak lanang, dan dirinya sendiri. Mendadak Mak Inang telah merasa dirinya serupa babu. Di petang temaram bernyamuk ganas, ia masih berkubang dengan cucian. Di kampung, waktu-waktu serupa ini, ia telah bertelekung dan gegas membawa kakinya ke mushola, mendahului muadzin yang sebentar lagi mengumandangkan adzan. Lampu benderang. Serentak. Seperti telah berkongsi sebelumnya. Berkelip-kelip macam kunang-kunang di malam kelam. Lagi, terdengar suara desingan tajam di atas ubun-ubun Mak Inang. Ia pun kembali mendongakkan wajah, mata lamurnya melihat lampu merah, kuning, hijau berkelip-kelip di langit temaram. Nyamuk-nyamuk pun kian ganas dan membabi-buta menyerang kulit keringnya. Wajah Mak Inang kian mengelap, hatinya menghitung-hitung angka di almanak dalam benak. Berapa hari lagi menuju akhir bulan? Rasa-rasanya, telah seabad Mak Inang melihat muka Jakarta yang di luar dugaannya. Benak Mak Inang pun hendak bertanya: Mengapa kau tak pulang saja, Mal? Ajak anak-binimu di kampung saja. Bersama Emak, menyadap karet, dan merawat limas. Tapi, mulut Mak Inang terkunci rapat. Malam di langit ibu kota merangkak bersama muka Mak Inang yang terkesiap karena seekor tikus got hitam besar mendadak berlari di depannya. Keterkejutan Mak Inang disudahi suara adzan dari televisi. Perempuan itu kembali menekan tuas sumur pompa, air mengalir, jatuh ke dalam ember plastik. Ia membasuh muka tuanya dengan wudhu. Bersamaan dengan itu, mendadak gerimis turun, seolah ibu kota pun hendak mencuci muka kotornya dengan wudhu bersama Mak Inang. Muka tua yang telah keriput, mengkerut, dan carut-marut.

Sumber : http://berita-i.blogspot.com/2013/08/contoh-cerpen-singkat-lengkap.html

Cerpen "Kado Natal Yang Terindah"


Kado Natal Yang Terindah


Hari ini suasana sangat ramai. Semua orang sibuk dengan aktivitasnya. Yandri terus menunggu dengan sabar jemputannya ke kampus. Meski berasal dari keluarga yang berkecukupan, Yandri lebih memilih naik bus ke sekolahnya, daripada diantar oleh pak supirnya dengan mobil mewah. Dengan memakai sweater hitam dan merangkul tas berwarna hijau yang hanya memiliki 1 tali, ia berjalan ke kios yang tak jauh dari terminal untuk membeli kemasan air minum setelah itu ia balik lagi. Terlihat senyuman kecil di wajahnya setelah ia meminum air kemasannya. Air kemasan itu akhirnya bisa menghilangkan rasa dahaganya karena cuaca setempat sangat panas.
Tak lama kemudian kendaraan beroda 8 datang. Semua orang berebutan naik untuk mencari tempat duduk. Yandri pun tak mau ketinggalan dan tak ingin agar terlambat ke kampus, soalnya pelajaran di kampusnya mulai pukul 09.00 sedangkan jam tangannya menunjukkan pukul 08.20 waktu setempat. Ia menerobos penumpang yang lain dan berhasil mendapatkan tempat duduk di bagian belakang bus. Kini semua penumpang telah berada di dalam bus. Tanpa menunggu lama pak supir langsung menginjak pedal dan bus langsung meluncur.
15 menit kemudian bus tersebut berhenti di depan sebuah bangunan yang megah. Tidak salah lagi itu adalah kampusnya Yandri. Yandri dan beberapa orang lainnya turun dari bus tersebut sambil membayar ongkos pada kaneknya. Setelah turun dari bus Yandri langsung bergegas ke ruangannya. Di sana sudah ada teman-temannya yang duduk sambil bercerita. Ia meletakan tasnya di kursi kemudian duduk sambil menuggu pelajaran dimulai. “Yandri! Tumben kamu datang lebih awal?” terdengar seruan dari belakangnya. Ternyata itu Fleming, teman Yandri waktu SMA. Mereka biasanya selalu bersama. Bagai magnet sama besi saja layaknya. “Eh kamu Ming! Aku kira siapa? Aku datangnya lebih awal soalnya aku nggak mau terlambat lagi. Aku uda males!” jawab Yandri dengan tersenyum. “Haahaha” Fleming tertawa nyaring mendengar ucapan sahabatnya. “Kenapa kamu tertawa Ming?” tanya Yandri penasaran. “Nggak ada apa-apa kok!” jawab Fleming singkat.
Tiba-tiba Lindung, guru mata pelajaran fisika telah ada di kelas. Semua anak memberi salam. Tanpa membuang-buang waktu, pak Lindung langsung memulai pelajaran hari itu. Fleming dan Yandri mengikuti pelajaran dengan serius, mencatat poin-poin yang penting di buku masing-masing dan menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan kepada mereka berdua. Tak terasa waktu belajar di kampus telah usai. Semua anak membereskan peralatan tulis menulisnya dan meninggalkan kampus serta menuju ke rumah tercinta. Kegiatan di kampus berakhir pada sore hari.
Dalam perjalanan pulang Fleming mengajak Yandri untuk memancing karena esok adalah hari Sabtu, hari di mana kampus libur, “Gimana Yan, jadi nggak?” “Gimana ya? iya deh!” jawab Yandri. “Mantap! Aku jemput ya, ingat jam 1 aku ke rumahmu!” “Iya, iya” jawab Yandri singkat. Mereka berpisah di persimpangan jalan. Yandri pergi ke tempat pemberhentian bus untuk mengantarnya pulang ke rumah.
Setibanya di rumah, ia tak melihat kedua orang tuanya. Setelah ia mencari ke sana dan kesini, namun hasilnya nihil. Hanya ada bibi Ivan yang telah menyiapkan santap malam di meja. Yandri memang jarang mendapat perhatian dari kedua orang tuanya karena mereka sangat sibuk. Ayahnya seorang pengusaha sedangkan ibunya seorang perawat. Tentu waktu mereka banyak tersita untuk pekerjaan mereka. Namun demikian, Yandri tak pernah mencari perhatian di luar dengan menggunakan nark*ba dan obat-obatan terlarang atapun free se*s. Ia lebih memilih untuk berbagi pengalaman bersama sahabatnya, Fleming. Ia pun baranjak ke kamarnya, menaiki tangga yang spiral. Ia langsung membaringkan badannya di atas kasur yang empuk. Tangannya merangkul Naruto, boneka kesayangannya yang selalu menemaninya saat tidur. Matanya perlahan mulai tertutup dan akhirnya ia pun tertidur. Mungkin karena letih jadi Yandri tidur lebih awal dari biasanya.
Sang surya kini telah merayap keluar dari tempat peraduannya. Memancarkan sinar kehidupan bagi semua makhluk hidup serta membangunkan Yandri dari tidur lelapnya. Yandri akhirnya bangun sambil merentangkan tangannya! Rasanya ia ingin tidur kembali saja. “Wah, uda jam berapa ini ya?” tanya Yandri pada dirinya sendiri. Matanya langsung diarahkan pada setiap sudut ruangan kamarnya, guna mencari jam wekernya yang setiap hari selalu membangunkannya. Akhirnya Yandri menemukannya. Ternyata sudah jam 9 pagi. Yandri berdoa, merapihkan tempat tidurnya dan kemudian pergi sarapan.
Sarapannya telah tersedia di atas meja makan. “Tuan, makan dulu! Sarapannya telah siap” kata bibi Ivan pada Yandri. “Makasih bi! Ayah dan ibu di mana? Kok mereka nggak sarapan bi?” tanya Yandri dengan keheranan. “Ayah dan ibu tuan sudah berangkat pagi-pagi sekali. Katanya ada urusan yang harus diselelsaikan” jawab bibi Ivan. “Gitu ya?” seru Yandri dengan wajah yang cemberut kerena ia harus sarapan pagi tanpa ayah dan ibu tercinta. Yandri kemudian menyantap hidangan yang telah disediakan. Setelah itu ia pergi mandi dan mengganti pakaiannya. Kemudian ia mengambil laptopnya, memeriksa emailnya, membuka FB dan mencari beberapa informasi di internet.
“Wah, gawat! Udah setengah satu nih. Sebaiknya aku menyiapkan peralatan memancing, karena sebentar lagi Fleming datang. Aku tak mau diomelin lagi sama anak itu. Pedes telingaku mendengar semua ocehannya, namun niatnya baik kok. Ia mau untuk aku disiplin.” Kata Yandri dalam hatinya. Ia pun segera mematikan laptopnya kemudian mengembalikan ke tempat semula. Setelah itu Ia menyiapkan segala keperluan yang bersangkutan dengan memancing, seperi kail, senar, umpan dan sebagainya. Ia tak lupa juga untuk membawa bekal, guna mengganjal perut mereka pada waktu memancing nanti. Setelah itu ia duduk di depan rumah sambil menunggu Fleming, partnernya. Tak lama kemudian terdengar bunyi sepeda motor, makin lama makin terdengar dengan jelas dan Yandri kenal betul dengan suaranya. Tak salah lagi itu adalah Fleming. Fleming berhenti tepat di depan rumah Yandri. “Buruan Yan, kalau nggak kita nggak bakalan kebagian tempat” teriak Fleming. “Emangnya kita mau nonton pertandingan sepak bola, jadi harus cepat-cepat ya?” tanya Yandri sambil berjalan ke arah Fleming dengan menenteng peralatan pancingnya. “Hahahaha…” Fleming tertawa terbahak-bahak sampai-sampai menggetarkan pohon-pohon di sekitarnya. “Uda siap mas?” seru Fleming. “Uda pak!” jawab Yandri singkat. “Let’s go!” Fleming menyalakan mesin dan mereka meluncur dengan cepat ke tempat tujuan.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 10 menit, akhirnya mereka berdua sampai juga di tempat tujuan. Suasana di sana sangat sejuk. Pepohonan yang rindang menambah indahnya suasana di kala itu, meskipun sang raja siang berada pada puncaknya. Anginnya sepoi-sepoi dan airnya terlihat begitu tenang sekali. Yandri dan Fleming mengeluarkan peralatan pancing mereka, mencari tempat yang cocok kemudian mereka mulai memancing. Mereka bersandar di bawah pohon yang besar, yang melindung mereka dari sengatan raja siang. “Untung kita dapet tempat yang bagus banget, yang melindungi kita dari sinar matahari. Kalau enggak, bisa gosong semua badanku!” seru Yandri. Fleming hanya tersenyum mendengar perkataan sahabatnya tadi. Tiba-tiba tali pancing Yandri mulai bergerak. Ia tahu bahwa ikan sementara memakan umpannya. Dengan teknik yang tinggi Yandri menarik pancingannya. Ditariknya dengan sekuat tenaga. Wah! Apa yang terjadi? Ternyata Yandri mendapatkan ikan yang cukup besar. “Beruntung banget kamu Yan, baru mancing aja udah dapet ikan segede ini.” teriak Fleming sambil tak melepaskan pandangannya pada ikan hasil pancingan Yandri, seperti tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. “Jangan banyak bicara saja kamu, tapi bantu aku untuk ngeluarin kailnya.” cetus Yandri. Keduanya kemudian mengurus ikan tersebut. Setelah selesai baru mereka melanjutkan kegiatan mereka kembali.
Kini sang fajar telah berada di ufuk barat dan akan kembali ke tempat peraduannya. Pertanda bahwa malam akan tiba. Yandri dan Fleming membereskan peralatan pancing dan hasil pancingannya. Setelah selesai kedua langsung pulang. Hasil tangkapan mereka pun lumayan. Mereka ke rumah Yandri. Sesampainya di sana keduanya langsung membersihkan hasil tangkapan mereka, kemudian memasaknya dan menyantapnya. Bibi Ivan sempat menawari diri untuk membersihkan ikan-ikan hasil tangkapan Yandri dan Fleming, tetapi keduanya menolak. Mereka lebih senang mengerjakannya tanpa membuat orang lain menjadi sibuk. “Eh, Fleming! Kita kan diberi tugas dari guru biologi untuk mencari informasi tentang pengertian dari gen, inget nggak? tanya Yandri pada sahabatnya. “Inget, inget. Kalau begitu kita langsung ke warnet aja untuk nyelesain tugas kita, biar nggak repot ntar. Aku mandi di rumahmu ya, OK?” seru Fleming.
Yandri dan Fleming melaksanakan rencana yang telah mereka buat, yakni ke warnet untuk mencari tugas. Mereka menemukan banyak informasi mengenai tugas mereka. Mereka mengumpulkan gambar-gambarnya juga, agar lebih memerjelas tugas tersebut. Setelah selesai keduanya langsung pulang. Karena esok adalah hari minggu, hari di mana semua orang kristiani meluangkan waktu untuk mengucap syukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena telah memberkati dan memberi rezeki kepada mereka selama seminggu. Begitu pula Yandri dan keluarganya. Maka Yandri tidur lebih awal agar bangun tidak kesiangan pada keesokan harinya. Ia menyetel wekernya tepat jam 5 pagi agar membangunkannya nanti. Yandri membaringkan badannya, memejamkan mata dan tak lama kemudian ia terlelap dalam mimpi yang indah.
Kring…!!! Kring…!!! Jam weker milik Yandri mulai berbunyi, memecah heningnya pagi di rumahnya. Yandri langsung bangun dari tidurnya, mematikan wekernya dan berdoa. Setelah itu ia bergegas mandi dan siap-siap ke Gereja. Selesai berpakaian ia langsung pergi ke ruang tamu, duduk di atas sofa berwarna putih sambil memegang Alkitab di tangan kanannya. Menunggu kedua orang tuanya agar ke Gereja bersama. “Ayo kita berangkat, takut terlambat.” seru ibu Yandri. Mereka menggunakan mobil untuk barangkat dan ayah Yandri sendiri yang menyetir. Perjalanan ke Gereja kurang lebih 5 menit.
Setibanya di sana mereka sekeluarga langsung mencari tempat duduk yang belum ditempati orang. mereka mendapatkan tempat duduk di bagian tengah. Tak lama kemudian Perayaan Ekaristi dimulai. Pada saat salam damai Yandri melihat seorang gadis yang sebaya dengannya berada tepat di depannya. Parasnya cantik dan elok. Tapi Yandri belum tahu siapa namanya. Segera saja Yandri berjabatan tangan dengannya sambil memperkenalkan dirinya. “Yandri” sahutnya. Gadis itu pun membalas dengan suara yang lembut “Clara.”
Selesai Perayaan Ekaristi, Yandri langsung menghampiri Clara di pintu masuk dengan tujuan meminta nomor telepon Clara. Tujuan Yandri tercapai pada saat Clara memberikan nomor teleponnya. Tak tahu mengapa, Clara juga merasa tertarik pad Yandri. “Mungkin ada kemistri yang kuat antara kami berdua” kata Clara dalam hatinya. Berharap agar apa yang ia prediksikan tidaklah salah.
Setibanya di rumah, Yandri bergegas mengganti pakaiannya dan kemudian menemui Fleming, sahabatnya. Ia menceritakan kejadian yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu. Fleming hanya mengangguk-angguk ketika mendengar penjelasan dari Yandri. “Jadi, begitulah ceritanya” kata Yandri dengan hati yang berbunga-bunga karena sementara dilanda kasmaran. Fleming hanya diam saja. Tak lama kemudian dia mulai berbicara: “Yandri, tau nggak? Sebenarnya Clara itu temanku juga” katanya sambil menepuk bahu Yandri. “Benarkah? Clara adalah temanmu?” kata Yandri dengan wajah yang berseri-seri. Fleming hanya mengangguk dengan pasti akan pernyataan yang disampaikan padanya. “Berarti kamu bisa jadi perantaranya dong?” sambung Yandri. “Iya iya! Akan ku usahakan hingga hubungan kamu dengan Clara bisa berjalan dengan lancar. Tapi, inget satu hal! Aku nggak mau jadi orang yang suka ngungkapin perasaan orang lain. Jadi, jika kamu ingin Clara menjadi pacarmu, maka kamu harus menembaknya secara jantan. OK? Satu hal lagi! Ini adalah moment yang sangat penting. Kesempatan berharga bagimu untuk mendapatkan cintanya, daripada kamu terus sendiri dan terus menerus dilanda kesepian?” kata Fleming. “Itu sudah pasti. Jadi, jangan khawatir!” jawab Yandri sambil memeluk Fleming.
Setelah mengungkapkan perasaan yang di alaminya pada Fleming, Yandri segera balik ke rumah. Hati Yandri kini tengah dilanda virus-virus cinta, sehingga ia perlu dokter cinta yang dapat menangani penyakit yang sedang ia alami. Ia memutuskan untuk mengadakan pertemuan dengan Clara. Tanpa berpikir terlalu lama, ia segera mengambil handphone yang ada di atas meja belajarnya kemudian ia mengirim pesan kepada Clara yang isinya adalah ajakan untuk bertemu di taman kota. Yandri sangat berharap agar Clara menyetujuinya. Kini ia hanya bisa menunggu balasan dari Clara mengenai ajaakannya. Ia menunggu dengan sabar. Dan tiba-tiba hpnya berbunyi. “Semoga ini adalah balasan dari Clara” pinta Yandri di dalam hati. Ia menggapai hpnya. Ternyata memang benar dugaan Yandri. Itu adalah balasan dari Clara. Ia membuka pesan tersebut dengan jari-jemarinya dan membaca isinya. Yandri merasa sangat senang sekali ketika ia mengetahui bahwa Clara menyetujui permintaannya. Mereka berdua sepakat untuk bertemu keesokan harinya pukul 17.00 di taman setelah Yandri pulang dari kampus. Yandri melompat kegirangan di kamarnya. Tak tahu kenapa hatinya begitu senang sekali hari itu. “Apakah ini yang dinamakan cinta?” tanya Yandri dalam hatinya “Biarlah semuanya mengalir seperti air saja” sambungnya.
Sore harinya, Clara telah berada di taman seperti janji mereka kemarin. Ia sengaja datang lebih awal untuk menikmati pemandangan yang ada di sana. “Semoga hari ini menyenangkan!” katanya dalam hati. Clara duduk di bangku taman yang tak ditempati orang. Matanya memandang lingkungan sekitar, dilihatnya pepohonan, bunga-bunga yang tengah bermekaran, seperti hatinya sekarang. Aroma bunga mawar yang menghiasi seluruh taman dan mendengar kicauan burung-burung yang menambah indahnya suasana di sore itu. Tiba-tiba sebuah sentuhan lembut mendarat tepat di bahu Clara dan tentu saja hal itu mengagetkannya. Clara memutar badannya. Ia ingin tahu bahwa siapa yang telah mengagetkannya. Ternyata itu adalah Yandri. “Yandri, ternyata itu kamu. Bikin kaget aja” kata Clara dengan suar yang lembut dan wajahnya yang memerah. “Udah lama di sini ya?” Tanya Yandri. “Uda, sekitar setengah jam yang lalu” jawab Clara. Obrolan antara Yandri dan Clara pun dimulai. Mereka saling berbagi cerita dan pengalaman, bertukar pendapat serta mengenal lebih dalam mengenai pribadi masing-masing.
Dialog antara dua orang yang tengah jatuh cinta ini akhirnya menenggelamkan sang surya. Dan tak terasa hari kini telah berubah menjadi malam. “Yan, uda malam ni. Esok lagi baru dilanjutin” seru Clara. “Iya ni, udah malem. Kita pulang aja. Aku boleh mengantarmu pulang malam ini, soalnya aku pengen tau di mana kamu tinggal” pinta Yandri. Clara tak punya alasan untuk menolaknya. Mereka berdua segera meninggalkan taman dan beranjak pulang. “Yan, makasih ya udah antar aku pulang” kata Clara setelah tiba di rumahnya. “Ah, biasa aja kali? Aku balik ya, soalnya esok masih ke kampus” jawab Yandri. “iya. Hati-hati di jalan ya?” kata Clara menasehati. Bayangan Yandri perlahan mulai lenyap di hadapan Clara. Setelah melihat sang pujaan hati kembali, Clara berjalan ke kamarnya. Ia kemudian duduk di atas tempat tidurnya sambil membayangkan kembali kejadian yang baru saja berlalu. “Betapa senangnya bisa ngobrol sama Yandri. Rasanya ada yang berbeda saat aku bersama dengannya. Oh, Tuhan. Semoga dia adalah orang yang telah kau titipkan untuk bersama denganku” Clara berdoa dalam hatinya.
“Gimana Yan, ngobrol sama si Clara?” tanya Fleming di kampus. “Wah, seru banget Ming. Clara memang asyik untuk diajak ngobrol. Aku nggak bosen cerita sama dia meski seharian” jawab Yandri. “Aku nggak kuat lagi ming tuk nahan rasa yang ada di dalam dadaku ini. Rasa sayang dan cintaku ama Clara. Ini sangat menyiksa bahtinku Ming, jika tak ku ungkapkan! Tapi, aku takut ia berpaling dan memberi jarak. Gimana dong? Kasi saran sama aku.” sambung Yandri. “Gimana ya? Ikuti aja apa kata hatimu. Jangan pernah takut untuk jatuh cinta, Yan. Jika kamu tidak mengikuti kata hati, pada akhirnya kamu sendiri yang akan menangis, jauh lebih pedih karena saat itu kamu menyadari bahwa kamu tidak pernah memberi cinta. Mengapa kamu tak mengungkapkan cintamu bila kau memang mencintainya, meskipun kau tak tahu apakah cinta itu ada juga padanya?” Fleming menjelaskan. “Betul sekali perkataanmu” Yandri menimpali. “Aku tak mau menunggu terlalu lama untuk nyatakan cinta. Meskipun pertemuannya begitu singkat namun tak disangka aku langsung terhipnotis olehnya” kata Yandri dengan tekad yang membara bagaikan kobaran api.
Dalam perjalanan pulang, Yandri dicegat oleh beberapa pemuda yang sebaya dengannya. Ia tak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya saat itu. “Apa-apan ini?” tanya Yandri pada mereka semua. Salah seorang pemuda memegang leher baju yandri kemudian menyandarkannya di tembok. Yandri jadi panik. Ia ketakutan dengan perlakuan para pemuda tersebut. “Jadi, kamu yang bernama Yandri itu?” tanya seorang lelaki kepada Yandri sambil melangkah ke hadapannya. “Hei, kamu! Jagalah adikku baik-baik ya? Aku tak mau ia tersakiti untuk kesekian kalinya. Aku tak mau lihat adikku menetaskan air mata lagi, karena banyak cowok yang telah menyakitinya. Aku percaya pada kamu. Ku titipkan adikku sama kamu. Aku tak ingin dia sedih lagi, OK?” sambung lelaki itu. “Maaf ya, bukannya aku menolak tetapi adik yang mana maksud anda?” Yandri balik bertanya. “Nama adikku Clara” jawab lelaki itu. “Cla.. Cla.. Clara? Jadi, kamu adalah kakaknya?” seru Yandri dengan gemetar. Lelaki itu hanya menganggukan kepalanya. “Baik, akan ku laksanakan tugasku dengan sepenuhnya. Aku janji takan membuatnya sedih lagi” seru Yandri yang saat itu masih tak percaya bahwa orang yang ada di hadapannya adalah kakak Clara. “Jika kamu aku dapati menyakiti adikku, tak segan-segan aku akan memukulmu sampai babak belur. Paham?” sambung pemuda tadi. Seusai perbincangan tersebut kakak Clara beserta dengan pemuda yang lain pergi meninggalkan Yandri. Yandri awalnya takut saat dicegat, tetapi ketakutannya hilang saat kakak Clara mengungkapkan maksud kedatangannya. Yandri kini semakin mantap dengan pilihan hatinya ketika ia berjumpa dengan pemuda tersebut yang adalah kaka Clara. Yandri kemudian meneruskan perjalanannya yang tertunda.
Keesokan harinya Yandri mampir di rumah Clara setelah pulang dari kampus. Tujuannya bertemu dengan Clara. Hari itu juga Clara tidak ke mana-mana. Ia ada di rumah. Clara kaget dengan kedatangan Yandri yang mendadak. Ia langsung mengajak Yandri masuk ke dalam. “Maaf ya, kalau aku nggak bilang pengen ke rumahmu. Ada sesuatu hal yang perlu ku sampaikan kepadamu” kata Yandri. “Tidak apa-apa, tapi lain kali kabarin ya kalau kamu mau main ke rumahku” jawab Clara dengan tersenyum. Yandri menggenggam tangan Clara. Hal ini membuat Clara menjadi bingung. Tiba-tiba Yandri berkata, “Clara…” detak jantung Yandri makin lama maikn kencang bagai dipukul beduk. “Aku cinta padamu. Aku tahu bahwa ini terlalu cepat untuk dikatakan, tapi aku tak kuat lagi untuk memendam rasa ini. Jika tak dikeluarkan akan makin menyiksa bahtinku. Meski kita belum lama bertemu tapi inilah perasaanku yang sesungguhnya padamu. Aku ingin kamu jadi pacarku. Apa kamu mau?” sambung Yandri. Hal tersebut tentu saja mengejutkan Clara. Clara tak tahu bahwa Yandri akan mengungkapkan isi hatinya hari itu juga. Clara juga merasakan perasaan yang sama seperti yang dialami Yandri. Clara diam sejenak. Setelah beberapa saat Clara mulai angkat suara, “Yan, sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama. Saat pertama kali kita bertemu kau telah membuatku jatuh cinta setelah sekian lama aku tertidur karena luka yang telah digoreskan dalam hati ini. Dan hari ini kau telah membangunkanku dari tidur lelap itu. Aku percaya pada sebuah pepatah yang bunyinya begini: Cinta mungkin akan meninggalkan hatimu bagaikan kepingan-kepingan kaca, tapi tancapkan dalam pikiranmu bahwa ada seseorang yang akan bersedia untuk menambal lukamu dengan mengumpulkan kembali pecahan-pecahan kaca itu sehingga kamu akan menjadi utuh kembali” dan kaulah orangnya. Jadi sudah pasti aku mau jadi pacarmu. Tapi, berjanjilah padaku bahwa kamu tak akan meninggalkanku agar aku tak kesepian lagi!” Yandri sangat senang sekali saat Clara menyetujuinya. Setuju menjadi pacarnya. “Aku berjanji tak akan meninggalkanmu dan akan selalu bersamamu. Aku akan mencintaimu dari kekurangan maupun kelebihanmu dan menerimamu apa adanya” seru Yandri. “Esok aku pengen ajak kamu ke suatu tempat, mau nggak” tanya Yandri. “Mau, tapi ke mana?” tanya Clara. “Nanti kamu akan tahu tempatnya. Aku nggak bakalan ngapa-ngapain kamu, yang penting kamu mau. Udah dulu ya, aku mau pulang. Cuma itu yang pengen aku sampaikan” jawab Yandri. Tak lama kemudian Yandri berlalu dari pandangan Clara. Yandri merasa lebih tenang setelah mengungkapkan isi hatinya kepada Clara dan merasa senang sekali saat Clara mau menjadi pacarnya. Kini hubungan Clara dan Yandri naik satu tingkat, dari teman menjadi pacar.
Keesokan harinya Yandri bersama dengan Clara oergi ke tempat yang disebutkan Yandri kemarin. Clara begitu mempesona ketika sampai di tempat itu. Di sana ia bisa melihat tatanan kota, pemandangan yang indah, berbagai tanaman bunga dan sebagainya. Sungguh tempat yang luar biasa. Ia bisa merasakan betapa agung sang Penciptanya. “Ini tempat yang sangat menarik dan sungguh luar biasa. Aku sangat menyukainya” kata Clara pada Yandri, gebetan barunya. ”Ini adalah tempat favoritku. Tempat di mana aku meluangkan waktu saat sedih. Dari sini aku bisa melihat pemandangan yang indah dan hal itu bisa membuatku sedikit terhibur. Dengan hadirmu di sini, suasananya pasti tak sepeti dulu lagi. Akan lebih indah karena kau sekarang bersamaku” Yandri menjelaskan. Keduanya menghabiskan waktu di sana hingga petang. Suasana di sana makin mesra. “Ya, Tuhan. Terima kasih karena kau telah memberiku pendamping yang sangat penyayang. Semoga Kau selalu bersama dengan kami sehingga hubungan kami berjalan dengan lancar” seru Yandri dalam hati. Mengucap syukur kepada Tuhan atas Berkat yang telah ia terima. “Clara, ini adalah awal. Kedepan pasti kita akan mengalami banyak tantangan dan cobaan atas hubungan yang telah kita jalin. Apakah kau bersedia menjalani semuanya bersamaku?” tanya Yandri. “Tentu! Yang penting kita saling percaya satu sama yang lain, pengertian, tidak cepat bosan dan sabar dalam mengatasi semua masalah yang kita hadapi. Cinta kita tak akan kuat Yan, jika tidak diuji, betul nggak?” jawab Clara meyakinkan Yandri. Setelah selesai berbincang-bincang keduanya pulang ke rumah masing-masing.
Yandri tak segera pulang melainkan menyempatkan diri untuk berbagi suka cita yang ia alami dengan Fleming sahabatnya. “Begitulah Ming ceritanya” kata Yandri. “Kalau begitu selamat ya atas perjuanganmu. Ternyata tak sia-sia kamu ku bimbing selama ini” jawab Fleming. Keduanya pun tertawa bersama-sama. Meski orang-orang sering memanggil yandri dengan sebutan PemBaLap (Pemuda Berbadan Gelap) namun masih ada orang yang mau mencintainya apa adanya, yakni Clara. Ia tak memandang dari segi fisik melainkan sikap dan pengorbanan yang telah Yandri lakukan. Ia juga beranggapan bahwa fisik belum tentu menggambarkan sifat orang tersebut. Ada orang yang wajahnya tampan, namun hatinya seperti penjahat. Sebaliknya ada orang yang wajahnya jelek, namun hatinya bagaikan malaikat.
Hari itu juga natal telah dekat. Impian Yandri akan terwujud pada tahun ini yakni melewati malam natal bersama dengan seseorang yang ia cintai, yaitu Clara. Ia tak membayangkan hal ini sebelumnya. “Tidak semua hal yang kita inginkan itu baik bagi kita. Sementar itu, hal-hal yang tak terduga kerap kali justru menjadi berkat bagi kita” sahut Yandi dalam bahtinnya. “Tuhan memang Maha Baik. Tahu betul akan apa yang kita mau dan selalu membuatnya indah pada waktunya. Clara adalah kado Natal yang terindah yang pernah aku dapatkan. Semua ini berkat dari Tuhan. Aku patut mensyukurinya” sambung Yandri. Akhirnya, Yandri dan Clara melalui hari Natal dengan penuh suka cita.

Sumber :  http://cerpenmu.com/cerpen-cinta/kado-natal-yang-terindah.html

Contoh Naskah Drama Singkat dan Lengkap

– Berbicara mengenai seni teater, mungkin drama adalah salah satu yang paling sering kita lihat dan diperagakan. Seperti layaknya seni diatas panggung lainnya, drama juga menyajikan sebuah cerita yang unik dan membuat para penontonnya terkesan. Bagus tidaknya sebuah drama juga tak bisa diukur dari jalan ceritanya saja melainkan juga dari aksi tokoh drama diatas panggung. Hal ini bisa terlihat pada drama-drama lucu seperti lenong, opera van java dan acara lainnya yang ada di Televisi. Semuanya terbukti menyajikan aktor yang sangat berpengalaman sehingga jalan cerita yang digambarkan menjadi semakin hidup. Selain kedua faktor tersebut, faktor bagus tidaknya drama juga sangat bergantung pada naskah drama yang diperankan oleh masing-masing tokoh. Semakin banyak percakapan yang ada pada sebuah drama maka akan semakin panjang jalan ceritanya dan tentu akan membuat drama tersebut semakin memiliki nilai tambah.


Contoh Naskah Drama
Contoh Naskah Drama
Contoh Naskah Drama seringkali kita perlukan ketika ingin membuat sebuah cerita drama dan dipentaskan diatas panggung. Selain untuk kepentingan tersebut, drama juga sering dimainkan untuk tugas praktikum bahasa atau sastra dimana drama seringkali dimainkan. Bagi kita yang tidak biasa memainkan peran dalam drama, tentunya akan kebingungan untuk memerankan seorang tokoh yang pastinya memiliki naskah teks yang banyak. Apalagi untuk pemeran utama dalam drama dimana setiap sudut cerita pasti memainkan peran yang sangat banyak. Bagi kita yang ingin membuat sebuah drama tetapi tidak ingin ribet dalam membuatnya, maka drama yang singkat bisa menjadi pilihan yang terbaik. Dan blog Eboza.com pada kesempatan kali ini juga menyajikan contoh naskah dramanya untuk para pembaca semua. Berikut adalah info selengkapnya.

Tema     : Persahabatan, Sekolah, Kehidupan
Aliran     : Bahasa Indonesia
Jumlah Karakter : 7 Orang (Tra, Lala, Tri, Lili, Pak Darmo, Kepala Sekolah, Fauzia)

Pagi hari di sekolah didalam kelas ada 3 orang anak murid yang sedang berbincang-bincang. Anak-anak ini mempunyai geng yang bernama tralalatrilili yang anggotanya ada 4 orang. Yaitu Tra, Lala, Tri, Lili. Maka dari itu mereka menamakan gengnya itu “Tralalatrilili”


Tra       :      (Ceria) ”Pagi Sobat....!!”
Lala      :       , Tri : “Pagi Tra...”
Tra        : “Ngomong-ngomong kayanya ada yang kurang deh !”
Lala      : “Iya, yah...”
Tri        : “ya, iyalah ada yang kurang. Orang Lili belum datang.”
Tra       : “Oh... Iya Lili. Pantas saja sepi banget biasanyakan dia yang paling bawel ...!”

Tiba-tiba Lili datang, dengan wajah termenung tanpa senyum. Sedikitpun Langsung duduk ditempat duduknya.

Lala      : “Tumben banget nona bawel baru datang ?”
Tri        : “ Iya nih kesiangan ya ?”
Lili        : “Iya... (sambil termenung)”
Tra       : “Kamu kenapa Li ? Gak biasanya kamu seperti ini ? biasanya kamu pagi-pagi udah buat kita bertiga ketawa.”
Lala      : “Iya nih ! kamu sakit Li, kayanya kamu lesu banget.”
Tri        : “Tau nih ditanya aku aja jawabannya singkat banget.”
Lili        : “Gak kok.... Teman aku gak kenapa-napa cuma lagi malas ngomong aja....”
Tra        : “Ya udah Li kalau memang kamu gak kenapa-napa kita Cuma takut auja kalau kamu lagi ada masalah atau kamu sedang sakit tapi gak mau cerita.”
Lili         : “Ya... pokoknya aku gak kenapa-napa. Kalian gak usah takut.

(Bel masuk pun berbunyi)
Pak Darmo pun masuk ke dalam kelas karena pada hari ini jam mengajar Pak Darmo dikelas ini. Ia ini salah satu guru yang aneh di sekolah.

Pak Darmo : “Pagi.... anak-anak ?”
Anak-anak : (Menjawab Serentak) “PAGI...”
Pak Darmo : “Baik pada hari ini kita akan melanjutkan materi yang minggu lalu Bapak berikan, sebelumnya kumpulkan tugas kalian !!”
Anak-anak : “IYA PAK”
Lili : “Pak buku tugas saya tertinggal dirumah !”
Pak Darmo : “ TERTINGGAL... ? kamu tidak membawa tugasnya, apa tidak membuatnya ?”
Lili : “Saya tidak membawanya pak. Sungguh, saya tidak berbohong.”
Pak Darmo : “Ya sudah kalau begitu kamu tidak dapat nilai seperti teman-teman kamu...!”
Tri : (berbisik-bisik) Li... kamu gak bawa tugasnya ? Gak biasanya kamu kaya gini.....
Lili : “Iya tri aku lupa. Semalam aku tidur malam banget !!! Jadi aku lupa memasukan kedalam tasku.”
Pak Darmo : Bapak akan berikan selembaran kertas yang isiunya materi-materi penting untuk kalian pelajari..”

Pak Darmo membagikan kertas lembaran itu, anak-anak pun membacanya dan memahaminya. Lalu ia memeriksa tugas yang dikumpulkan tadi.
Tiba-tiba bapak kepala sekolah datang dan masuk kedalam kelas.

Kepala Sekolah : “Permisi Pak Darmo... Saya minta waktu sebentar.”
Pak Darmo : “Silahkan bapak kepala sekolah !!! Memang jam mengajar saya juga sudah habis.”
Kepala Sekolah : “Anak-anak maaf bapak mengganggu kalian belajar. Sebentar, bapak kesini mau memanggil anak yang bernama Lili. Yang bernama Lili acungkan tangan.”
Lili : (Mengancungkan Tangan) “SAYA PAK !”
Kepala Sekolah : “Ikut keruang bapak sebentar ada y7ang bapak mau bicarakan !”
Lili : “Baik Pak.”
Sampainya diruang Bapak Kepala Sekolah, Lili duduk tegang di handapan bapak kepala sekolah.
Lili : “ Ada apa ya pak sampaui saya di panggil keruang bapak ?”
Kepala Sekolah : “Begini, apa benar kamu sudah menunggak SPP 3 bulan ?”
Lili : “Iya pak memang saya belum membayar uang spp selama 3 bulan.”
Kepala Sekolah : “Kenapa ? kamu sampai menunggak 3 bulan apa sebenarnya kamu di kasih uangnya sama orang tua kamu cuma pakai ?”
Lili : “Tidak pak memang saya belum dikasih uangnnya sama orang tua saya karna orang tua saya belum punya uang.”
Kepala Sekolah : “Ya sudah, kalau begitu.... bapak sarankan kekamu secepatnya kamu lunasi karena sebentar lagi kamu akan UAN.
Lili : “Baik pak. Secepatnya saya akan melunasinya.”
Kepala Sekolah : “Iya... Kembalilah kekelasmu!”
Lili : “Terima kasih pak. Permisi !”
Akhirnya Lili kembali kekelas. Didalam kelas, Tra, Lala, dan Tri sedang asik mengobrol.
Lala : “Li, Bapak Kepala Sekolah ngomong apa sam kamu ? ada masalah ya ?
Lili terpaksa berbohong dengan sahabat-sahabatnya karena dia tidak mau sahabtanya jadi tahu masalah dia dan ikut kedalam masalahnya.
Lili : “Gak kok ! Gak ada masalah apa-apa cumangobrol masalah perpisahan aja..... aku kan ketua panitia.”
Lala : “Oh... dikira kau kenapa ?”
Tra : “Teman, tar pulang sekolah antar aku ya ke toko buku ? Soalnya aku mau beli novel-novel terbaru sekalian kita shopping.
Lala,Tri : “IYAA !!”
Tra : “Li kok kamu diam, apa kamu gak mau ikut ?”
Lili : “Iya Tra kayanya aku gak ikut soalnyakan kamu tahu sendiri ayahku lagi sakit. Belum Sembuh, jadi aku harus membantu ibu menjaga ayah.”
Tra : “Ya... sudah kalau begitu !
Bel Istirahat berbunyi
Tra : “Sudah istirahat, kita kekantin yuk.. Laper nih !!”
Lala, Tri : “Yuk.... kita juga laper!”
Lili : “Teman, aku gak ikut ya soalnya aku gak laper dan lagi males kekantin. Kalian saja ya.... ?”
Tra, Lala, Tri : “Ya sudah kalau kamu gak mau ikut. Kita ke kantin dulu ya ?”

Lili Terpaksa harus berbohong lagi padahal dia bukan tidak lapar tapi tidak mempunyai uang dan tiba-tiba tersirat di pikiran Lili untuk mengambil uang Tra yang ada didalam tas. Uang itu akan digunakan Tra untuk membeli Novel dan Shopping nanti sepulang sekolah.

Lili : “Aku bingung nih harus membayar SPP tapi gak punya uang. Minta sama ibu kan ibu lagi gak punya habis untuk ayah kerumah sakit. Apa aku ambil saja uang Tra yang katanya mau dibeluikan novel dan shopping pasti uangnya cukup ! Tapi kan dia sahabat aku sendiri. Maafin aku ya Tra. Gak ada jalan lain ... Karena aku harus secepatnya melunasi uang SPP.”

Tanpa Lili Sadari ada yang melihat kelakuannnya itu yaitu Fauzia dia ank kelas itu juga. Fauzia tidak sengaja mengintip Luili di pintu kelas.

Fauzia : “Apa yang dilakukan Lili itu kan tasnya Tra kok dia mengambil uangnya ?”

Fauzia pun langsung kedalam kelas dan pura-pira tidak tahu. Bel Masuk kelas pun berbunyi . Tra, Lala, dan Tri masuk kedalam kelas.

Tri : “Sedang apa kamu Li ?”
Lili : “Aku lagi baca buku saja.”
Lala : “kamu istirahat Cuma dikelas aja ? gak bosen Li ?”
Lili : “Gak, aku kan sudah bilang aku males.”
Tra : “Udah... kok jadi dipermasalahin sih.. ?!”

Tra belum menyadari kalau uangnnya hilang. Setelah dia membuka tasnya dan melihat dompetnya terbuka dia langsung kaget karena uangnya hilang.....

Tra : “Teman, uang aku hilang semua !”
Lala, Tri : “HILANG ?!?”
Tri : “Kamu lupa kali Tra. Coba cari Lagi.”
Tra : “Aku gak lupa tadi aku simpan disini uangnya. Kemana ya ?”
Lala : “Apa ada yang MENCURI uang kamu Tra !!?”
Tra : “Bisa jadi, kalau tidak ada yang mencuri gak mungkin uang aku hilang.”
Tri : “Siapa yang mencuri ya kok tega banget sih !!?”
Tra : “LI... ! Kok kamu diam saja sih ? Bantuan aku donk ! uang aku hilang nih !!
Lili : “Bukan Aku Tra yang mencuri !!”
Tra : “Siapa yang bilang kamu yang mencuri. Aku kan Cuma minta dibantuin cari.”
Tri : “Li.... kok kamu ngomong gitu ? bukannya aku nuduh kamu ya dari tadikan Cuma kamu yang ada dikelas ini sampai istirahat selesai.”
Lili : “Tapi bukan aku Tri yang ngambil uang Tra. Benar bukan. Aku kan sahabat Tra dan Kalian.”
Lala : (Jutek) “Biarpun kamu sahabat kita mungkin ajakan. Ya udah biar kita gak salah nuduh kita periksa tas kamu, Cuma membuktikan saja.”
Lili : “Jangan kumohon JANGAN !! Bukan aku yang ambil.”

Tiba-tiba Fauzia bicara dengan mereka.

Fauzia : “Hei... Sebelumnya aku minta maaf kalau aku ikut campur urusan kalian. Aku Cuma mau bilang tadi aku lihat Lili membuka tas kamu Tra dan mengambil sesuatu sepertinya ya.... UANG.”
Tra : “Kamu gak bohong kan Fauzia ?”
Fauzia : “Iya aku gak bohong aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Maafin aku Li, aku gak mau menutupi kejahatan. Jadi, aku ngomong apa yang aku lihat tadi.”
Lili : ”Fauzia.... aku sama sekali gak tau kalau tadi kamu melihat apa yang aku lakukan. Tra, memang aku yang mengambil uang kamu. Fauzia benar. Tapi aku terpaksa Tra !!! Aku bukan bermaksud Jahat.”
Tra : “Jadi... kamu Li yang ambil uang aku ! Ya ampun Li.... Aku gak nyangka banget !!! Kamu terpaksa kenapa ???”
Lili : “Aku terpaksa karna aku belum bayar uang SPP 3 bulan. Orang tua ku gak punya uang kan kamu tahu sendiri ayahku sedang sakit.”
Tra : “Tapi kamu gak harus seperti ini Li....”
Lala : “Iya Li kenapa kamu gak jujur ada sama kita. Kalau kamu jujur kita pasti akan bantu kamu.
Tri : “Bener banget !!! Jadi kamu dari tadi pagi sudah berbohong kamu bilang kamu lagi males aja ternyata kamu ada masalah ?”
Lili : “Tra, Lala, Lili aku menyesal udah gak jujur sama kalian. Aku seperti ini karna aku gak mau menyusahkan kalian terus. Aku minta maaf sama kalian. Terutama Tra.”
Tra : “Aku maafin kamu Li. Karena aku tahu kamu dalam keadaan terdesak melakukan semua ini.”
Lili : “Kamu memang sahabat aku yang paling baik Tra, aku sangat menyesal sekali.”
Lala : “Bagaimanapun seseorang sahabat dia tetap menjadi seorang sahabat !
Tri : “Kamu salah La... diralat ya ? Bagaimanapun kesalahan seorang sahabat kita harus memaafkannya karena manusia pasti membuat kesalahan dan tidak selalu benar. Jadi kita harus tetqap jadi sahabat sejati.”
Lili : “Makasih ya sahabat-sahabat ku kalian memang sahabat yang paling baik dan yang paling aku sayang . Makasih kalian sudah mau maafin aku dan masih mau jadi sahabat aku .
Tra, Lala, Tri : “IYA DONK HARUS !!!”
Tra : “ya udah Li Uangku untuk kamu saja karena aku tahu kamu sangat m embutuhkannnya daripada aku.”
Lili : “Benar Tra ? Makasih sekali lagi aki ucapkan untuk kamu sampai kapan pun juga aku gak akan melupakan kebaikan kamu.”
Tra : “Iya.... Li. Kamu makasih juga donk sama fauzia karena dia sudah buat kejujuran untuk kamu.”
Lili : “Fauzia, terima kasih ya... ? Atas kejujuran kamu !”
Fauzia : “Iya Li sama-sama.”
Tra : “Ya sudah kalau seperti ini kan jadinya enak. Tralalatrilili tidak hancur. Tra...”
Lala : “lala.....”
Tri : “Tri.....”
Lili : “lili.....”
Tralalatrilili : “YEEEEEEEEE.......”
 
Naskah Drama diatas memang sangat singkat namun sangat bermanfaat untuk kita yang dituntut membuat drama terbaik namun dibatasi oleh waktu panggung. Biasanya drama yang singkat tersebut juga berlaku pada sekolah-sekolah yang menyajikan seni drama sebagai bagian dari tugas praktikum bahasa dan sastra. Dan semoga saja dengan adanya contoh drama diatas bisa membantu kita yang masih bingung mencari cerita drama terbaik untuk kita tampilkan di depan semua orang terutama pada teman-teman kita.


Sumber : http://simply-wonderful-moments.blogspot.com/2013/07/contoh-naskah-drama-singkat-dan-lengkap.html

15 Cara Menjaga Kesehatan Ginjal

15 Cara Menjaga Kesehatan Ginjal

Ginjal Manusia
Ginjal merupakan salah satu organ vital dalam sistem metabolisme tubuh. Ginjal berfungsi sebagai penyaring zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh lalu membuangnya melalui urine. Selain itu, ginjal juga bertugas menyeimbangkan kandungan garam dan mineral di dalam darah sehingga tekanannya tetap terjaga seimbang. Karena itu, menjaga kesehatan ginjal sangatlah penting seperti menjaga kesehatan jantung.

Beberapa dari kita membebani ginjal dengan kebiasaan-kebiasaan buruk yang membuat ginjal tidak berfungsi maksimal. Bahkan penyakit seperti batu ginjal bisa diakibatkan karena hal sepele.

Cara Menjaga Kesehatan Ginjal


Nah, berikut ini merupakan beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menjaga agar ginjal tetap sehat dan berfungsi dengan baik.

1. Rajin berolahraga

Beraktivitas yang dimaksudkan yakni melakukan aktivitas fisik. Aktiflah bergerak untuk tetap menyehatkan tubuh termasuk ginjal Anda.

2. Menjaga berat badan

Gemuk bukanlah kondisi tubuh yang sehat, Menjaga berat badan is a must untuk setiap orang agar seluruh organ tubuh dapat bekerja lebih maksimal tanpa balutan lemak. Jika berat badan berlebihan, maka ginjal juga jauh lebih lemah dan berat kerjanya.

3. Jaga tekanan darah

Tekanan darah tinggi merupakan penyebab penyakit ginjal tertinggi yang terus meningkat selama lima tahun terakhir. Berdasarkan data dari IRR tahun 2010, tekanan darah tinggi menyebabkan penyakit ginjal sebanyak 35 persen.

4. Konsumsi makanan sehat

Makanan yang mengandung racun seperti zat pewarna sintetik dan zat pengawet juga dapat mengganggu kesehatan ginjal. Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit dr. Ciptomangunkusumo (RSCM) Parlindungan Siregar mengatakan dalam kesempatan yang sama, minuman seperti teh atau kopi jika terlalu sering diminum setiap hari dapat berkontribusi dalam pembentukan batu ginjal. Maka Anda perlu menyeimbangkannya dengan banyak meminum air putih.

5. Perbanyak minum air putih

Mencukupi kebutuhan cairan penting artinya bagi organ ginjal. Anda dapat memenuhi kebutuhan ini melalui berbagai cara misalnya mengonsumsi buah atau sayuran yang mengandung banyak air atau juga rutin minum air putih. Bila Anda rutin beraktivitas dalam kondisi dan situasi yang menuntut banyak mengeluarkan keringat, minumlah dua sampai tiga liter per hari sehingga Anda tidak akan mengalami dehidrasi.

6. Jauhi rokok dan Alkohol

Rokok telah lama dikenal sebagai pemicu dan faktor risiko berbagai penyakit berat, termasuk penyakit ginjal. Begitu juga dengan Anda yang sering mengkonsumsi alkohol.

7. Hindari Makanan asin

Makanan asin mengandung sodium yang tinggi. Sodium akan melemahkan kerja ginjal dan membuat ginjal terganggu performanya.

8. Hindari stres

Selalu berusaha untuk melakukan kegiatan positif dan rileks agar terhindar dari stres. Stres dapat memicu berbagai reaksi tubuh dan dapat mempengaruhi kondisi tekanan darah dan ginjal.

9. Menjaga kadar gula darah

Penyakit diabetes salah satu faktor risiko dari penyakit ginjal. Menurut data dari Indonesian Renal Registry (IRR) pada tahun 2010, diabetes menyumbang 25 persen penyebab penyakit ginjal.

Makanan untuk Kesehatan Ginjal


Ada beberapa jenis makanan yang jika dikonsumsi berlebihan dapat menyebabkan gangguan pada ginjal seperti garam. Namun ada juga makanan yang dapat membantu menjaga kesehatan ginjal seperti berikut ini:

10. Apel

Buah ini sangat baik dikonsumsi untuk fungsi ginjal Anda. Sebab apel memiliki serat dan anti-inflmasi yang membantu meningkatkan kesehatan tubuh Anda secara keseluruhan.

11. Kembang kol

Makanan ini bermanfaat untuk kesehatan ginjal Anda. Di mana kembang kol memiliki kandungan yang kaya akan vitamin C dan rendah kalium. Sehingga dapat membantu membersihkan organ ginjal Anda dan detoksifikasi.

12. Stroberi

Stroberi mengandung antioksidan, magnesium, vitamin C dan serat yang baik untuk ginjal Anda. Selain itu, kandungan stroberi juga dapat membersihkan ginjal Anda.

13. Anggur merah

Kandungan flavonoid dalam anggur memiliki efek positif untuk kesehatan jantung Anda. Di samping itu juga dapat membantu proses pengeluaran racun atau zat-zat yang bersifat racun dari dalam tubuh.

14. Sawi

Sayuran hijau adalah makanan yang baik untuk ginjal Anda. Pasalnya kubis memiliki kandungan yang kaya akan vitamin K dan rendah kalium.

15. Jahe

Kandungan anti-inflamasi pada jahe sangat baik dikonsumsi untuk kesehatan organ ginjal Anda. Di mana selain dapat membersihkan organ ginjal, jahe dapat membantu memurnikan darah dalam tubuh.

Hal yang Merusak Kesehatan ginjal


Selain mengetahui apa saja hal yang bermanfaat untuk ginjal Anda juga perlu mengetahui apa saja yang buruk untuk ginjal kita. Berikut ini beberapa diantaranya yang akan merusak ginjal.

1. Obat pereda nyeri

Penggunaan obat tertentu seperti pereda nyeri dalam jangka panjang apalagi dalam dosis tinggi bisa merusak jaringan ginjal. Baik obat resep maupun yang dijual bebas, keduanya sama-sama punya efek samping merusak ginjal. Diperkirakan 1-3 persen kasus gagal ginjal kronis disebabkan oleh penggunaan pereda nyeri yang berlebihan.

2. Rokok dan Alkohol

Efek negatif rokok terhadap jantung dan paru-paru sudah banyak dipublikasikan, tetapi kini penelitian juga menunjukkan bahwa perokok memiliki kandungan protein dalam urine. Ini menunjukkan adanya kerusakan pada jaringan ginjal. Penyakit yang merusak ginjal seperti diabetes dan tekanan darah tinggi juga memburuk akibat konsumsi rokok.

3. Konsumsi gula berlebihan

Banyak mengonsumsi gula adalah faktor risiko berbagai penyakit seperti diabetes mellitus dan obesitas. Kedua penyakit ini juga berdampak pada fungsi ginjal yang memburuk. Membatasi asupan gula tidak hanya menyelamatkan ginjal, tetapi juga lingkar pinggang.

4. Konsumsi garam berlebih

Terlalu banyak konsumsi garam natrium bisa meningkatkan tekanan darah, yang berujung pada kerusakan fungsi ginjal. Orang dewasa di Amerika Serikat mengonsumsi garam natrium rata-rata 3.300 mg/hari, jauh lebih tinggi dibanding batasan yang dianjurkan pemerintah yakni 1.500 mg/hari.

Kesehatan ginjal memang sangat penting untuk dijaga. Namun bukan berarti Anda mengabaikan kesehatan organ tubuh lainnya.

Sumber :  http://www.kirimcara.com/2013/09/15-cara-menjaga-kesehatan-ginjal.html

Tips Menjaga Kesehatan Jantung




Jantung adalah penyakit pembunuh nomor satu di dunia. Penyakit jantung terjadi utamanya disebabkan karenya kurangnya jumlah darah yang memasok oksigen ke jantung. Berbagai macam penyebab atau gejala bisa dirasakan dengan begitu mendadak. Salah satunya seperti sering pusing, berkeringat dingin, dan sesak nafas. Dengan gejala tersebut masih banyak masyarakat umum yang menyepelekan hal tersebut. Berikut ini kesehatan96 berbagi Tips Menjaga Kesehatan Jantung yang bisa dijadikan untuk mengatasi penyakit jantung.

Tips Menjaga Kesehatan Jantung

Tips Menjaga Kesehatan Jantung

  1. Relaksasi
    Melakukan relaksi secara tratur, sangatlah baik untuk penderita jantung. Karena jika jantung bernafas dengan baik dan teratur maka keadaan jantung akan semakin stabil dan membaik. Dan ingat hindari berbicara yang terlalu keras.
     
  2. Olahraga
    Melakukan olahraga yang teratur adalah hal yang baik untuk dilakukan. Selain fisik dan jiwa terasa sehat dan kuat, detakkan jantung akan lebih teratur.
     
  3. Pola Makan
    Makanan yang banyak mengandung lemak dan kolestrol tinggi perlulah dihindari bagi penderita penyakit jantung. Karena makanan mengandung kolestrol tinggi pastilah sangat menggung kesehatan jantung.
     
  4. Hindari Makanan Instan
    Makan instan atau siap saji, sangat banyak sekali mengandung lemak, garam, serta bahan pengawet. Maka dengan begitu, sangat tidak baik untuk kesehatan jantung.
     
  5. Henti Merokok
    Jika anda seorang perokok, maka dari sekarang cobalah untuk menghindari hal tersebut. Karena dari asap rokok sangat berpengaruh ke paru-paru.
Jadi, dari sekarang hindarilah makanan serta faktor-faktor yang bisa menambah penyakit jantung anda. Terutama beberapa poin di atas.

Sumber: http://kesehatan96.blogspot.com/2013/04/tips-menjaga-kesehatan-jantung.html